Ambon, JENDELASERAM.COM — Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa dan Mantan Gubernur Maluku periode 2019-2024 Murad Ismail bertemu di acara pemakaman Mantan Gubernur Maluku periode 2014-2019 Said Assagaff di Jakarta, Senin (01/12/2025).
Foto dua calon kepala daerah yang pernah bertarung pada Pemilihan Gubernur Maluku tahun 2024 lalu itu kini ramai diposting di media sosial Facebook maupun grup WhatsApp.
Salah satu tokoh muda Maluku Azis Tunny dalam postingan facebooknya mengatakan, dalam sebuah momentum yang jarang tertangkap kamera, dua putera Maluku yang pernah jadi rival politik itu terlihat saling merangkul.
“Dalam sebuah momen yang jarang tertangkap kamera, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa dan mantan Gubernur Maluku Murad Ismail terlihat saling merangkul di prosesi pemakaman mantan Gubernur Maluku Said Assagaff,” kata Tunny.
Tunny menilai, pertemuan Hendrik dan Murad itu menampilkan gestur yang sederhana, namun sarat makna bahwa politik hanyalah ruang kontestasi, sementara masa depan Maluku yang lebih baik adalah tanggungjawab bersama.
Dia berujar, di balik perbedaan pilihan dan dinamika kompetisi, ada kesadaran bahwa kepemimpinan sejati menuntut kedewasaan, kebijaksanaan dan hati yang lapang.
“Perbedaan politik adalah hal biasa. Ia hadir sebagai warna yang justru memperkaya demokrasi. Ketika kontestasi usai, saatnya para pemimpin berdiri di barisan yang sama, yakni barisan pekerjaan besar untuk rakyat, tanah dan masa depan Maluku,” ujarnya.
Mantan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Maluku ini mengatakan, sebagai orang Maluku, dia juga berharap agar momen serupa diperlihatkan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa dan Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath.
Menurutnya, Hendrik Lewerissa dan Abdullah Vanath harus saling rangkul dan bisa memperlihatkan kepada seluruh masyarakat bahwa mereka adalah satu paket yang dipercaya rakyat melalui Pilkada, yakni sebuah mandat yang menuntut harmoni, selaras, kebersamaan dan sinergi.
“Mereka berdua harus saling berdampingan, saling menguatkan, menjadi simbol kuat bahwa kepemimpinan Maluku saat ini bergerak dalam satu komando, satu hati, par Maluku pung bae. Dengan lawan politik saja bisa saling rangkul, masa dengan kawan politik bisa saling buang muka. Mereka berdua harus duduk bicara baik-baik dan atur Maluku ini dengan segala baik,” katanya.
Dirinya menegaskan, di tengah harapan besar masyarakat, gambar-gambar seperti pertemuan Hendrik Lewerissa dan Murad Ismail bukan hanya dokumentasi, tapi sebuah pesan moral.
“Persatuan para pemimpin adalah fondasi utama untuk membangun Maluku yang lebih damai, lebih kuat dan lebih sejahtera,” tegasnya. (JS-02)












Discussion about this post