Bula, JENDELASERAM.COM — Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) menggelar kegiatan seminar hasil kajian neraca pangan tahun 2025.
Kegiatan yang merupakan kolaborasi Dinas Ketahanan Pangan dengan Lembaga Penelitian dan PengabdianMasyarakat (LPPM) Pusat Studi Desa dan Kependudukan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon itu berlangsung di Penginapan EL di kawasan Desa Kampung Gorom, Kota Bula pada Selasa (11/11/2025).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Ketahanan Pangan SBT, Nofel Alkatiri mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan hasil analisis ketersediaan dan kebutuhan pangan strategis daerah, sekaligus memperkuat sinergi antar OPD dalam perencanaan kegiatan ketahanan pangan.
Dirinya mengungkapkan, penyusunan neraca pangan wilayah merupakan istrumen penting dalam ucapaya menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan.
“Melalui kajian ini kita dapat mengetahui kondisi nyata pangan di wilayah kita, apakah mengalami surplus atau devisit, sehingga kebijakan interfensi bisa lebih tepat sasaran,” ungkapnya.
Asisten I Setda SBT Ramli Kilwarani saat membacakan sambutan Bupati SBT mengungkapkan, kegiatan kajian neraca pangan ini memiliki makna yang sangat strategis bagi pemerintah daerah dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan daerah secara kelanjutan.
“Data dari hasil analisis kajian ini akan menjadi bahan penting dalam penyusunan kebijakan ketahanan pangan, termasuk dalam perencanaan pembangunan sektor pertanian, pengembangan industri olahan, serta upaya pengendalian inflasi di tingkat daerah,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, Tim penyusun neraca pangan Kabupaten SBT yang berasal dari LPPM Pusat Studi Desa dan Kependudukan Unpatti, Prof. La Ega memaparkan hasil kajian neraca pangan tahun 2025 sampai 2030.
Paparan itu mencakup; 1. Ketersediaan pangan lokal darihasil produksi pertanian, peternakan dan perikanan. 2. Kebutuhan konsumsi pangan masyarakat Kabupaten SeramBagian Timur berdasarkan data penduduk dan pola konsumsi.
3. Prognosis neraca pangan terhadap 11 komoditas strategis (beras, jagung, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, daging ayam, telur, ikan, gula dan minyak goreng). 4. Identifikasi komoditas rawan defisit, serta rekomendasikebijakan untuk menjaga keseimbangan distribusi dan stok. (JS-02)













Discussion about this post