Bula, JENDELASERAM.COM — Bupati Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Fachri Husni Alkatiri menginginkan tradisi hadrat dan aiwat di Kota Bula bisa memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Karena itu, dia meminta kepada pemuda Bula selaku inisiator kegiatan untuk mematangkan kesiapan hadrat dan aiwat di tahun 2026 mendatang dengan berkoordinasi dengan MURI tentang tradisi hadrat ini.
“Coba diskusi dengan MURI tentang ivent yang model begini ada rekor yang tercatat atau tidak. Kalau ada rekor yang tercatat, liat rekornya, kan ada aspeknya. Berapa banyak peserta, berapa panjang dilakukan, berapa lama dilakukan dan liat di bagian mana kita bisa punya potensi untuk memecahkan rekor MURI untuk ivent kaya begini, hadrat misalnya. Kalau itu bisa, siapkan dari sekarang,” ucapnya saat melepas peserta hadrat dan aiwat di halaman Mesjid Jami Bula, Selasa (01/04/2025).
Dia mengungkapkan, kalau ivent hadrat dan aiwat ini bisa pecahkan rekor MURI, tentu akan menjadi promosi tersendiri untuk Kota Bula secara khusus dan kabupaten SBT pada umumnya.
“Kalau kita bisa pecahkan rekor MURI, ini bisa jadi promo tersendiri, bukan saja untuk teman-teman tapi untuk Kabupaten SBT,” ungkapnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Pemuda di Desa Bula, Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) melestarikan kembali tradisi hadrat dan aiwat setelah puluhan tahun ditinggalkan.
Ketua Panitia Hadrat dan Aiwat Kota Bula, Ismail Pattikupang dalam laporannya saat acara pelepasan di pelataran Mesjid Jami Bula, Selasa (01/04/2025) mengungkapkan, tradisi hadrat di Kota Bula ini sama halnya yang dilakukan masyarakat di desa-desa lainnya saat Idul Fitri.
Dia mengaku, pasca SBT dimekarkan dari Kabupaten induk Maluku Tengah (Malteng) pada 2003 lalu, tradisi hadrat ini fakum, sehingga di momentum Idul Fitri 1446 hijriah ini para pemuda berkeinginan untuk menggagas untuk dilestarikan kembali.
“Kegiatan hadrat ini seperti di seluruh wilayah SBT di saat Idul Fitri selalu dilaksanakan, termasuk Bula dulu juga sama. Setelah kabupaten ini mekar, dia sempat fakum beberapa tahun. Untuk itu, hari ini teman-teman pemuda ingin menggagas itu untuk dilahirkan kembali sekaligus sebagai ajang silaturahmi kita semua,” ungkapnya.
Sementara itu, Bupati SBT Fachri Husni Alkatiri mengemukakan, kegiatan hadrat dan jalan aiwat ini menjadi salah satu cara untuk menghidupkan tradisi yang baik di masyarakat.
Menurutnya, tradisi ini sangat luar biasa yang bisa dimanfaatkan sebagai momentum silaturahmi dan mempererat soliditas diantara umat Islam
“Terkait jalan Aiwat, ini juga cara kita menghidupkan tradisi yang baik di masyarakat. Tradisi kaya begini adalah tradisi yang luar biasa bagus. Ini tradisi yang baik, tradisi silaturahim, tradisi mempererat soliditas umat Islam,” ucapnya.
Dia mengungkapkan, sejauh ini yang dikenal aktif melakukan tradisi aiwat ini hanya di Kota Geser, Kecamatan Seram Timur.
“Saya tidak tahu, di bagian-bagian lain dari Kabupaten kita, tapi mungkin yang masih hidup kita tahu ini aktif sekali itu di Geser,” ungkapnya. (JS-02)













Discussion about this post