Oleh : M. Abdul Rolobessy
Banda Neira adalah sebuah pulau kecil yang pernah mengguncang dunia, namun kini berdiri tenang seolah menunggu seseorang mengingatnya kembali.
Di sini, sejarah tidak berbisik; ia berteriak melalui benteng-benteng tua, rumah-rumah kolonial dan pohon-pohon pala yang tetap berbuah meski penderitaan pernah mengalir di tanahnya.
Banda bukan hanya saksi, ia korban dan juga pemenang dalam arus panjang kolonialisme yang membentuk wajah Indonesia. Ironi terbesar Banda Naira adalah bahwa semakin penting perannya dalam sejarah global, semakin sunyi posisinya dalam kesadaran nasional.
Kita sering lupa, bahwa dunia pernah menawar nyawa demi rempah yang tumbuh di tanah Banda dan keputusan-keputusan politik besar di Eropa pernah berakar dari perebutan pulau sekecil ini.
Namun, di balik sejarah yang gelap itu, Banda memancarkan keindahan alam yang luar biasa, laut biru sebening kaca, rumah-rumah tua yang anggun, masyarakat yang hangat, serta lanskap budaya yang tidak ditemukan di mana pun di Indonesia.
Potensi itu seolah belum sepenuhnya dipahami oleh bangsa ini. Koneksi transportasi masih terbatas, promosi sering datang hanya saat festival dan pembangunan belum menemukan ritme yang menghormati karakter lokal.
Padahal Banda memiliki modal alam dan sejarah untuk menjadi pusat pariwisata budaya dan ekowisata bertaraf internasional, sebuah destinasi yang tidak hanya menjual pemandangan, tetapi makna.
Kini yang dibutuhkan Banda bukanlah simpati, melainkan penghargaan. Penghargaan atas perannya dalam sejarah perdagangan dunia, penghargaan atas masyarakatnya yang menjaga tradisi dan penghargaan terhadap potensi masa depannya yang besar.
Banda perlu dibangun, tetapi dengan cara yang tidak merusak jiwanya. Pembangunan yang memasukkan masyarakat lokal sebagai aktor utama, yang menjaga laut tetap jernih, yang memastikan rumah-rumah tua tetap berdiri anggun dan yang menempatkan Banda bukan sebagai objek eksploitasi wisata, melainkan ruang edukasi sejarah dan budaya.
Banda Neira adalah pengingat bahwa Indonesia tidak hanya berdiri di atas kemenangan, tetapi juga luka. Dan justru karena itu, Banda adalah tempat di mana masa lalu dan masa depan dapat saling memulihkan.
Pulau ini menunggu sebuah kesadaran baru, bahwa ia bukan sekadar tempat indah untuk dikunjungi, tetapi tempat penting untuk dipahami dan dirawat.
Jika bangsa ini ingin menghormati sejarahnya sendiri, maka Banda Neira harus menjadi bagian dari ingatan kolektif yang tidak lagi diabaikan.













Discussion about this post