Bula, JENDELASERAM.COM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Seram Bagian Timur (SBT) terus menggaungkan program hilirisasi sagu yang diusung Bupati SBT, Fachri Husni Alkatiri.
Satu tahapan yang sedang dilalui yakni Focus Group Discussion (FGD) laporan akhir potensi dan kekerabatan sagu di SBT yang digelar di Galeri Sagu Pantai Wailola, Kota Bula pada Senin (02/03/2026) malam.
Kepala Dinas Pertanian SBT, Sofyan Waraiya dalam laporannya menuturkan, sagu adalah makanan pokok orang Maluku yang merupakan anugerah dari Allah SWT yang tidak terdapat di semua daerah di Indonesia.
Waraiya mengatakan, khusus di Maluku, tanaman sagu banyak tumbuh di Pulau Seram, lebih khusus tepatnya di Kabupaten SBT dengan persentase 97 persen dari total lahan sagu di Maluku.
“Itu artinya, dengan menggerakan potensi sagu, tentu Kabupaten SBT bisa bangkit, mendorong pendapatan dan perekonomian melalui pengelolaan dan pemanfaatan tanaman sagu ke depan,” tuturnya.
Sementara itu, Bupati SBT Fachri Husni Alkatiri mengatakan, sagu bukan sekadar komoditas pangan bagi masyarakat SBT, tetapi merupakan bagian dari identitas, budaya dan kearifan lokal masyarakat SBT.
“Sagu telah menjadi sumber kehidupan turun-temurun, penopang ketahanan pangan, sekaligus memiliki potensi ekonomi yang sangat besar apabila dikelola secara berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan,” katanya.
Alkatiri membeberkan, Kabupaten SBT memiliki potensi sumber daya sagu yang melimpah, namun potensi tersebut perlu didukung dengan data ilmiah yang akurat, termasuk pemetaan potensi dan kajian kekerabatan atau keragaman genetik sagu, sehingga kebijakan yang diambil ke depan benar-benar berbasis data (evidence-based policy).
Untuk itu, melalui FGD ini, dia berharap semua pihak dapat mengkaji secara komprehensif hasil laporan akhir potensi dan kekerabatan sagu, memberikan masukan konstruktif untuk penyempurnaan hasil kajian dan merumuskan rekomendasi strategis bagi pengembangan sagu di Kabupaten SBT.
“Pengembangan sagu ke depan harus diarahkan pada beberapa hal penting, antara lain penguatan ketahanan pangan daerah, peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi produk sagu, pelestarian plasma nutfah dan keanekaragaman hayati sagu serta pemberdayaan masyarakat adat dan petani sagu sebagai pelaku utama,” bebernya.
Dia menegaskan, Pemkab SBT berkomitmen untuk menjadikan sagu sebagai salah satu komoditas unggulan daerah yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta menjaga kelestarian lingkungan.
“Saya mengapresiasi kerja keras tim penyusun laporan, para peneliti, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan kajian ini. Semoga hasilnya benar-benar memberikan manfaat nyata bagi pembangunan daerah, khususnya dalam sektor pertanian dan ketahanan pangan,” tutupnya. (JS-02)












Discussion about this post