Bula, JENDELASERAM.COM — Lima Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) kebagian mobil ambulance.
Bantuan lima unit mobil ambulance yang diserahkan langsung oleh Bupati SBT Fachri Husni Alkatiri di Pantai Wailola pada Jumat pekan kemarin itu diberikan kepada Puskesmas Batuasa, Polin, Afang, Nama dan Kilga.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) SBT Punira Kilwalaga di Bula, Senin (23/02/2026) mengatakan, bantun mobil ambulance ini bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) SBT tahun 2025 kemarin.
“Alhamdulillah di 2025 kemarin kita berhasil mendapatkan bantuan ambulans 5 unit melalui DAK. Dari 5 unit itu kita alokasikan ke Puskesmas Afang, Puskesmas Batuasa, Puskesmas Polin, kemudian Nama dan Kilga,” katanya.
Dia menjelaskan alasan diberikan bantuan ambulance ini di Puskesmas Nama dan Kilga karena selama ini pasien rujuk dari Geser, Gorom dan Wakate pasti tertuju ke dua Puskesmas tersebut baru diantar ke Bula.
Kondisi yang sama juga terjadi di Kecamatan Werinama dan Siwalalat yang membutuhkan untuk kebutuhan rujuk ke Masohi, Ambon maupun Bula.
Kilwalaga mengungkapkan, hal ini sebagai upaya untuk memperkuat sistem rujukan dalam mendukung kebijakan kesehatan gratis yang sudah dijalankan di semua Puskesmas.
“Yang selama ini rujukan harus bayar, rujukan harus mereka pakai mobil-mobil pangkalan dan lain-lain sebagainya. Sekarang dengan adanya (ambulance) ini, maka rujukan juga sudah lebih baik, dan ketika rujukannya pakai ambulance, maka InsyaAllah kami sedang mengurus juga untuk PKS-nya, ini SK penetapan tarif ambulance juga sudah dibuat, sehingga nanti untuk biaya rujukan itu juga akan dia masuk di dalam klaim BPJS. Pasien akan free semua, selama menggunakan ambulance itu,” ungkapnya.
Dirinya mengaku, sejauh ini sebagian besar Puskesmas di SBT sudah memiliki mobil ambulance, namun tidak dijaga secara baik, sehingga rusak.
Sebagai bentuk ketegasan terhadap lima unit yang baru diserahkan, dia telah meminta untuk dibuat pernyataan yang ditandatangi para Kepala Puskesmas untuk merawat ambulance tersebut.
Bahkan, untuk penggunaaan ambulance ini juga dia perketat, sehingga keberadaan ambulance ini tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi para Tenaga Kesehatan (Nakes).
“Saya tegaskan bahwa saya tidak melihat ambulance itu keluar dengan petugas kesehatan yang berjalan lalu punya keperluan pakai ambulance, saya tidak mau. Saya mau ambulance keluar itu karena memang membawa orang sakit,” tegasnya. (JS-02)













Discussion about this post