Bula, JENDELASERAM.COM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Seram Bagian Timur (SBT) menggelar sholat Istisqa di Lapangan Pancasila, Kota Bula pada Sabtu (19/09/2026) pagi.
Sholat sunnah dua rakaat yang melibatkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) SBT, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) SBT, para pagawai dan masyarakat umum itu dipimpin oleh Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Qurwah Ustad Husein Wattimena dan Bupati SBT Fachri Husni Alkatiri bertindak sebagai Khotib.
Bupati SBT Fachri Husni Alkatiri dalam kesempatan tersebut menuturkan, situasi kekeringan dan kebakaran saat ini telah terjadi pada semua kecamatan di daerah ini.
Alkatiri mengaku, sejauh ini, Pemkab SBT bersama berbagai pihak telah bergerak melakukan penanganan terhadap kondisi ini, namun situasi ini sangat berat.
Menurutnya, selain langkah penanganan yang sudah dilakukan, Pemkab SBT bersama jajaran Forom Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan pimpinan instansi vertikal telah berkoodinasi untuk melaksanakan sholat Istisqa ini untuk meminta kepada Allah SWT agar diturunkan hujan.
“Situasi ini bukan hanya di Bula, di Bula Barat, di Tuluk Waru, tapi juga terjadi di kecamatan-kecamatan yang lain. Hari ini kita berkumpul di lapangan Pancasila ini untuk melaksanakan Sholat Istisqa, solat minta hujan yang disunahkan oleh Nabi kita Muhammad SAW,” akui Alkatiri.
Dia mengatakan, situasi hari ini terjadi di berbagai tempat, sehingga dia menyerukan kepada semua umat Islam yang hadir dalam sholat tersebut untuk meniatkan tidak hanya untuk SBT, tetapi juga untuk kabupaten/kota lain di Provinsi Maluku dan di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Begitu nanti kita berdoa bersama, maka doa yang kita bacakan pun kita niatkan bukan hanya untuk kita, tapi untuk seluruh kecamatan di Kabupaten SBT, bahkan di seluruh Kabupaten di Provinsi Maluku dan di seluruh Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.
Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Maluku ini mengungkapkan, sisi lain dari musibah kekeringan dan kebakaran ini menjadi bagian dari kesadaran manusia terhadap keterbatasan yang dimiliki.
Dirinya menegaskan, musibah kekeringan dan kebakaran yang terjadi ini harus menjadi momentum bagi semua masyarakat untuk melakukan introspeksi terhadap salah dan dosa yang sudah diperbuat selama ini.
“Musibah yang kita alami ini harus membuat kita melakukan introspeksi terhadap hubungan kita dengan Allah SWT. Dalam kondisi seperti ini, manusia terbatas, dayanya lemah, upayanya terbatas. Yang tidak terbatas daya dan upaya, yang tidak terbatas kemahakuasaan-Nya hanya Allah SWT,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pada perspektif yang lain, lewat musibah kekeringan dan kebakaran yang sudah berlangsung sejak beberapa bulan ini mempertanda bahwa Allah SWT ingin melihat wajah-wajah hamba-Nya kembali tunduk, patuh dan bertaubat atas kesalahan yang duperbuat.
“Situasi ini pertanda, Allah rindu kepada kita, Allah kangen kepada kita, Allah ingin melihat wajah-wajah kita hamban-Nya kembali kepada-Nya tunduk, patuh, bertobat mengingat dosa-dosa yang telah dilakukan selama ini. Allah ingin kita datang lagi kepada Allah mengakui kelemahan kita, lalu meminta kepada Allah agar Allah menolong kita hari ini untuk terlepas dari kesulitan kekeringan, Allah menolong kita untuk menurunkan hujan,“ tambahnya (JS-01)













Discussion about this post