Bula, JENDELASERAM.COM — Fenomena El-Nino diprediksi masih akan berlangsung dalam waktu yang cukup panjang dan berpotensi meningkatkan risiko bencana di wilayah Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).
Mengantisipasi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) SBT telah mengambil langkah cepat dengan menetapkan status darurat bencana pada beberapa waktu lalu.
Wakil Bupati SBT M. Miftah Thoha R. Wattimena kepada wartawan usai mendampingi tim BNPB meninjau dampak kekeringan di Kota Bula pada Kamis (13/08/2026) mengungkapkan bahwa Pemkab SBT telah menetapkan status darurat bencana untuk masalah kekeringan maupun Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi.
“Saat ini juga pemerintah daerah telah menetapkan status darurat bencana, terutama untuk kebakaran hutan, kekeringan karena kemarau panjang,” ungkap Wattimena.
Wattimena menjelaskan, dari prediksi BMKG, El-Nino ini puncaknya terjadi pada September 2026, sehingga fenomena alam ini masih sangat berpotensi lama.
“El Nino ini juga puncaknya masih di September, memeng menurunnya juga masih lama,” jelasnya.
Dia menuturkan, dengan keterbatasan daerah saat ini, Pemkab SBT harus menjalin kolaborasi dalam menangani bencana alam yang menimpa daerah ini.
Salah satu langkah kata dia, Pemkab SBT telah berkoordinasi dengan BNPB, sehingga tindaklanjutnya adalah mereka mengirimkan tim untuk meninjau dampak El-Nino di SBT.
“Untuk hal bencana ini harus kolaborasi. Saat ini langkah utama dari tim BNPB turun, kita meninjau dulu, setelah itu baru mungkin dilihat apa yang akan bisa dilakukan bersama,” tuturnya.
Ketua DPC Partai Gerindra SBT ini menegaskan, untuk mengontrol berbagai pihak dalam penanganan bencana di daerah ini, Pemkab SBT akan menggelar rapat untuk membentuk Satuan Tugas (Satgas).
“Setelah ini akan ada rapat lanjutan untuk tim pemerintah daerah untuk membentuk Satgas. Karena menurut saya memang harus segera bentuk Satgas,” tegasnya (JS-01)













Discussion about this post