Bula, JENDELASERAM.COM — Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Husin Rumadan membeberkan kondisi di Wai Bobot, Kecamatan Werinama yang selama ini menjadi kendala mobilitas di wilayah tersebut.
Rumadan menceritakan, di sungai Bobot itu dengan hamparan padang ilalang yang luas itu dijadikan sebagai habitat alami bagi rusa hutan, sehingga patut untuk dijaga kelestariannya.
Di samping itu kata Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) SBT itu, pada sekitar sungai tersebut memiliki kawasan pertanian, perkebunan dan peternakan yang menjanjikan.
Begitu juga di bagian hilirnya yang berhadapan ke laut Banda itu, juga menyimpan potensi perikanan yang menjanjikan dan menjadi penopang ekonomi utama masyarakat di pesisir Kecamatan Werinama, Siwalalat dan beberapa kecamatan tetangga di Kabupaten Maluku Tengah (Malteng).
“Tentang Kali (sungai) Bobot, salah satu kali unik di Pulau Seram, selain Kali Talah di Kabupaten Seram bagian Barat,” ungkap Rumadan di sela rapat paripurna dalam rangka penyampaian pandangan akhir fraksi-fraksi dan persetujuan bersama terhadap 7 Ranperda di ruang rapat paripurna DPRD SBT pada kamis (11/06/2026).
Dia membeberkan, keberadaan sungai Bobot dengan sumber daya alam yang cukup melimpah itu menjadi salah satu hambatan terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat yang berada di Kecamatan Werinama dan sekitarnya.
Ketua Fraksi Keadilan Rakyat Nusantara DPRD SBT itu menyebut, permasalahannya adalah sampai saat ini belum dibangun jembatan yang menghubungkan antara Kecamatan Werinama dengan kecamatan lain yang berada di wilayah kontinental Pulau Seram itu.
“Permasalahannya adalah sampai saat ini belum terhubung jembatan yang menghubungkan antara Kecamatan Werinama dengan kecamatan lain yang berada dalam wilayah kontinental Pulau Seram,” bebernya.
Wakil rakyat tiga periode ini menyadari bahwa untuk membangun jembatan permanen di sungai Bobot itu menjadi kewenangan Pemerintah Pusat (Pempus) melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Maluku.
Kendati demikian sambung dia, dengan berjalannya pemerintahan SBT yang secara estafeta sudah berada pada tahun ke-23 ini, minimal pemerintahan saat ini yang dipimpin Bupati dan Wakil Bupati SBT Fachri Husni Alkatiri-M. Miftah Thoha R. Wattimena menjadikan ini sebagai awal gebrakan untuk merubah paradigma yang selama ini tertinggal sebagai daerah kontinental yang terasa sebagai daerah-daerah yang berada di 3T.
“Secara geografis sangat dekat, tapi penghubung ini kemudian menjadi kendala,” sambungnya.
Ia mengaku, pada beberapa waktu yang lalu terjadi persoalan yang menghebohkan publik ketika terjadi rujukan pasien dengan kondisi cuaca ekstrim yang menyebabkan sungai Bobot banjir, situasi ini masyarakat hanya berpasrah diri.
Untuk itu, dalam forum rapat tersebut, dia menyampaikan keresahan masyarakat Werinama dengan meminta kepada Pemkab SBT agar mengusulkan untuk dibangun jembatan darurat di Sungai Bobot.
Menurutnya, langkah ini akan menjadi terhubung dan konsentrasi untuk peningkatan sumber daya perikanan maupun pertanian dan sektor lainnya bisa merambah pasar-pasar yang lebih kompetitif.
“Pada forum yang terhormat ini, sebagai perwakilan rakyat dari Kecamatan Werinama, kami minta pemerintah daerah untuk dapat mengusulkan, kiranya cukup saja dengan membangun jembatan sementara, tapi minimal ini dapat terhubung dan konsentrasi untuk peningkatan sumber daya yang tadi kami sebutkan bisa merambah pasar-pasar yang lebih kompetitif,” tutupnya (JS-01)













Discussion about this post